ANALISIS PRESPEKTIF IMAM SYAFI'I TERHADAP PUTUSAN NOMOR (265/Pdt,G/2024/PA.Sby) TENTANG PEMBAYARAN NAFKAH PASCA CERAI

M. FAIZ ABDUL ROZAK, 20210890203013 (2025) ANALISIS PRESPEKTIF IMAM SYAFI'I TERHADAP PUTUSAN NOMOR (265/Pdt,G/2024/PA.Sby) TENTANG PEMBAYARAN NAFKAH PASCA CERAI. Other thesis, Universitas Kiai Abdullah Faqih Gresik.

[thumbnail of 1. COVER.pdf] Text
1. COVER.pdf - Cover Image

Download (210kB)
[thumbnail of 3. ABSTRAK.pdf] Text
3. ABSTRAK.pdf - Other

Download (191kB)
[thumbnail of 6. BAB II KAJIAN TEORI.pdf] Text
6. BAB II KAJIAN TEORI.pdf - Other
Restricted to Registered users only

Download (554kB)
[thumbnail of FULL TEXT_S.1_2025_SYARIAH_HULUM KELUARGA ISLAM_20210890203012_M.FAIZ ABDUL ROZAK.pdf] Text
FULL TEXT_S.1_2025_SYARIAH_HULUM KELUARGA ISLAM_20210890203012_M.FAIZ ABDUL ROZAK.pdf - Other
Restricted to Registered users only

Download (3MB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih adanya ketimpangan dalam
pelaksanaan kewajiban nafkah pasca perceraian, khususnya pada putusan
Pengadilan Agama Surabaya Nomor 265/Pdt.G/2024/PA.Sby. Meskipun sudah ada
landasan hukum positif melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan
Kompilasi Hukum Islam (KHI), serta dukungan melalui sinergi antara Pengadilan
Agama dan Pemerintah Kota Surabaya, kewajiban nafkah pasca cerai memiliki
batasan yang tegas dan spesifik.
Kajian teori dalam penelitian ini membahas konsep nafkah pasca cerai, baik
dalam hukum Islam maupun hukum positif di Indonesia. Teori yang digunakan
meliputi teori keadilan hukum Islam, kaidah fikih dalam pemenuhan nafkah, dan
perbandingan antara ketentuan fikih klasik dan hukum nasional. Imam Syafi’i
menegaskan bahwa nafkah iddah hanya diberikan dalam talak raj’i, dan mut’ah
diberikan jika talak dijatuhkan atas kehendak suami, dengan mempertimbangkan
mahar dan kondisi istri.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian
yuridis normatif. Data dikumpulkan melalui studi kepustakaan yang meliputi
dokumen hukum seperti putusan pengadilan, Undang-Undang, KHI, serta kitab�kitab fikih klasik seperti Al-Umm karya Imam Syafi’i.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa isi putusan Nomor
265/Pdt.G/2024/PA.Sby menetapkan kewajiban kepada suami untuk membayar
nafkah iddah, mut’ah, nafkah madhiyah, dan nafkah anak. Majelis hakim
mempertimbangkan prinsip keadilan, kemampuan ekonomi pihak suami, serta
perlindungan terhadap mantan istri dan anak. Namun, jika ditinjau dari perspektif
Imam Syafi’i, terdapat perbedaan mendasar, khususnya dalam pemberian nafkah
madhiyah dan nafkah iddah kepada istri yang telah ditalak bain atau terbukti
nusyuz, yang menurut Imam Syafi’i tidak wajib lagi diberi nafkah. Hal ini
menunjukkan bahwa hakim lebih mempertimbangkan pendekatan hukum progresif
dan perlindungan sosial daripada semata-mata mengikuti batasan fikih klasik.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: Peradilan Islam > Perceraian
Ulama > Madzhab Syafii
Divisions: Fakultas Syariah > Hukum Keluarga Islam
Depositing User: Pustakawan UNKAFA
Date Deposited: 29 Sep 2025 06:19
Last Modified: 29 Sep 2025 06:19
URI: https://repository.unkafa.ac.id/id/eprint/450

Actions (login required)

View Item
View Item

Situs Slot

Link Slot

Situs Resmi Bisawd

slot thailand

Temukan Slot Gacor Hari Ini

Agen Slot Gacor